Sebaik-baiknya manusia ialah mereka yang taqwa dan bermanfaat untuk orang lain. Ketika kita memutuskan untuk menjadi yang bermanfaat tentunya kita harus siap memecah batas, memperluas pengorbanan serta berhenti menuntut kenyamanan.
Seorang volunteer ialah mereka yang banyak memberi, bukan yang banyak menuntut. Cause what you get is what you give. Kebermanfaatan kita yang kita beri sebenarnya akan kita rasakan sendiri, kelak. Kita hanya perlu ikhlas dalam mengabdi. Allah tau bagaimana caranya membalas.
Alhamdulillah :) Bangga banget sama kalian adik-adik :DDD
Walaupun mungkin udah ngga kenal sama adik-adik di MTs yang sekarang, tapi darah kita sama.. Pernah dapet pendidikan dari guru-guru yang sama, pernah duduk di bangku dan kelas yang sama… pernah makan masakan mba dapur yang sama… pernah ada di lingkungan yang sama… Dan kebanggaan akan nama “zakaria” yang terpampang di media pasti “akan sama”
TOTALLY PROUD!
Hubungan Luar @KemaFKUnpad 2013 B—)
mau mengawali dengan random dulu. hm asa jadi malu sama diri saya sendiri. ngeliat tumblr kangdanfer yang selalu aktif padahal dunia tau dia sesibuk apa tapi masih sempet-sempetnya nulis. (parah nyebut merek)
nah terus saya yang bikin blog ini yang semakin memproduksi sarang laba-laba sana-sini, malah alibi sibuk belajar jadi gasempet nulis (padahal alibi babi, sebenarnya emg ga ada inspirasi) payah.
jadi sekarang mau maksain nulis (lagi). dan untuk membangun kebiasaan mulai dari nol lagi tuh ya tau kan seGAMPANG apa?!*next*
jd sebenrnya lagi pengen curcol aja ya mungkin.
gini.. (nada so penting)
adaptasi di lingkungan yang saaaaaaaangat baru dan pertama kalinya menurut saya gamudah. artinya saya ditantang bagaimana karakter kuat yang saya punya tetap ada. ga mati gitu aja dengan alasan cultural shock dan lain-lain. karna hal ini merupakan langkah awal yang saaaangat sederhana bagaimana kita meneruskan pergerakan kita dan bakal jadi apa kita nanti. di sini. sekarang. nanti. dan selanjutnya sampai saatnya kita mempertanggungjawabkan semuanya.
pada awalnya saya pikir saya gagal. karena saya JAGO sekali dalam hal menyia-nyiakan kesempatan dan minder karna banyak sekali orang2 hebat disini pada saat itu. sekalinya memberanikan muncul saya merasa mati di tengah jalan. saya selalu merasa kesempatan itu ga pernah ada. saya selalu takut. eh terus tibatiba ditampar2 sana sini deh sama beberapa hal yang sepertinya sedang Allah hadirkan untuk meluruskan kembali harus melakukan apa.
dan dari situ (untungnya ga lama-lama) saya bisa menemukan lagi diri saya yang dulu dengan mengiringi visi misi hidup dan “karakter”.
saya bener-bener ga peduli lagi (loh) maksudnya saya bener-bener ga peduli lagi sehebat apa mereka sampe saya gabisa melebihi mereka dalam bidang tertentu. saya juga gapeduli seberapa banyak pengalaman mereka yang menurut saya sangat berpotensi bagi mereka untuk lebih unggul dari yang lain. saya juga gapeduli cara belajar mereka, mau bilang ga belajar taunya dapet A, kerjaannya tidur tapi hasil selalu termasuk yang memuaskan lalu membandingkan dengan saya yang sepertinya harus belajar sepi di kuburan ibnu sina biar pinternya ketularan (naon) terus kesel-keselan sendiri rasanya udah belajar banyak tapi nilai segitu-gitu aja hahahaha sudahlah saya ga peduli lagi sekarang. ukuran dan nilai terkuat dan yang sangaaaaat menentukan nanti tetep raportnya Allah.
dan pembenahan diri itu berefek besar di kehidupan saya yang sekarang. rasanya habis di kasih hadiah sama Allah :”) what kind of “gift” that I’ve got here? sooo much!
pertama dari segi wadah.
jadi gini saya greget banget dengan perdebatan yang sering terjadi di kampus ini mengenai kontribusi blablabla. yang katanya pandangan orang selalu bilang FK itu fakultas yang terlalu eksklusif, yang kerjaannya belajar, nge-ansos dan lain-lain. terus senior ngajak mikir maba terus orang-orang bependapat harusnya begini-begini dan ada yang bilang itu mah merekanya aja yang gatau, padahal kita sering kontribusi langsung ke masyarakatnya, tapi ga melibatkan banyak pihak dan lain lain.
terus saya mikir ko disini banyak banget yang miss ya. emangnya kita sama-sama satu definisi tentang pengrtian dari kontribusi itu apa? Trus ada yang bilang lagi “berarti kalau keadaannya seperti itu, masalahnya adalah bukan kurang kontribusi tapi eksistensi” nah terus emang apa yang mau di capai dari eksistensinya itu sendiri? kalo permasalahannya itu kenapa ga diadain aja kerjasama dengan fakultas lain disertai tujuan yang jelas kenapa harus jadi yang “muncul” di permukaan? BINGGO!
saya bingung debat ini ga selesei2 dan saya pikir banyak hal-hal yang miss dari sini .Ahirnya saya memutuskan mencoba untuk masuk PH (BEM nya FK UNPAD) dan masuk bagian ‘hubungan luar’ karena menurut saya wadah ini sangat bersinergis dengan gebrakan yang ingin saya lakukan. trus saya seneng bisa masuk lalalayeyeye (another “gift” :”) ) harus di bolt di italic di underline “dengan berbagai proses yang begitu cetarr membahana badaiiiii” ga selebai itu sih sebenernya haha terus terus anak-anak di hubungan luarnya…….. *speechless* seruu pokoknya! walaupun ga deket tapi nyaman bgt buat diajak kerjasama ;;)
dan dengan sangat kebetulan (another gift) ada proker medical complex yang sama sekali belum pernah di jalanin. jadi ini suatu perkumpulan 5 fakultas kesehatan (fk, fkg, fapsi, keperawatan, farmasi) yang bikin suatu rangkaian acara. kyaaaaa seneng bgt ahirnya bisa keluar-keluar ngegahool=)))… dan alhamdulillah dengan sangat tidak menyangka diberi amanah sebagai PJ 2012.. means, kehidupan akan semakin keras!!
dan yap. ahirnya bisa kumpul selima fakultas dan disitu anak-anak angkatan atas semua yang cara ngomongnya ber-intelek bgt! saya merasa jadi bayi premature disitu yang pengen cepet-cepet keluar padahal belum waktunya._. gara-gara INI saya NIAT cari permasalahan apa yang di jatinangor. ahirnya saya menemukan pendidikan dan pingin banget bentukan acaranya ada binsek (bina sekolah) ato kalo gabisa ya minimal ada sasaran anak2 pelajar menengahnya. kenapa pengen banget?
kalo masalah DI JATINANGOR berjangka panjang, kenapa ga kita coba melakukan penyelesaian dengan mendidik dari akarnya (pelajar. —> yg meneruskan nasib masa depan). dengan cara membina mereka agar mereka juga bisa membina desa mereka sendiri dengan mencetuskan berbagai gebrakan solutif demi kesejahteraan desa-desa mereka, ga harus selalu ditangani mahasisswa 100% iyakn. kalo kayak gitu terus gimana sumber dayanya mau berkembang? yang ngasih treatmentnya aja selalu dari satu golongan yang sama, bagaimana nasib kualitas sumber daya manusia di Indonesia kalau hanya beberapa persen saja yang memiliki intelektualitas. IYA KAN?! miris.
and finally fixnya bentukan acaranya sejenis lomba se-medical complex bandung dalam entuk olahraga dan bina desa dengan sasarannya masyarakat dan PELAJAR. yeah! challenge : accepted! ;) *se-seneng itu*
yang kedua akademis
hahahahaha rasanya mau ketawa bahas ini tuh. buku yang seharusnya di baca penuh selalu berakhir jadi bantal. emg multifungsi bgt ketebalannya tuh. hebat :”)
tapi alhamdulillah gatau kenapa sekarang belajarnya lebih enjoy setelah di charging up. aneh ya. orang harusnya membara habis di charging up nah saya malah enjoy haha. sabodoteuing
jadi sebenernya “enjoy” disini lebih multidefinisi. saya bener-bener ga lagi obsesi jadi yang terbaik dalam hal nilai atau apapun yang hanya menjadi ukuran di mata manusia. karena ga semua yang menjadi ukuran manusia itu yang “terbaik” dan yang “terbaik” itu ga hanya berlaku di satu nilai tapi dalam berbagai aspek yang kadang kita sendiri ga sadar kita sebenarnya terbaik (dalam sisi tertentu). lagian menurut saya, menjadi “yang terbaik” itu hanyalah apresiasi dari hal yang justru ini paling penting. apa yg paling penting cenah? —> Pilihan, proses, apa yang dibawa, serta sandaran yang menjadi kerangka terkuat yang akan tetap mengokohkan meskipun sedang berada dalam kondisi terlemah. if you know what I mean
dan pada akhirnya “enjoy” disini malah memperlihatkan perkembangan yang berarti. saya gabisa ngukur sejauh apa perkembangannya. tapi saya bisa merasakan untuk apa saya belajar ini dan mengapa saya harus memiliki intelektualitas dalam mengaplikasikan ilmu yang saya dapat disini. nyawa orang woy taruhannya! pengadilan resikonya! aaaaaa
bicara2..(re: ngmng2) udah malem bgt. dan harus lari pagi besok.
sekian.
“….ingatlah bahwa tidak ada yang abadi. yang kekal dan abadi adalah pemikiran dan sistem yang ditinggalkannya…. “
dan teruntuk kalian……jaga diri dan semakin berkembang yya. love you all gapake kecuali :)
12:05 A.M
Kamis,21 Maret 2013
tulisannya keren bgt sumpah gangerti lagi. harus baca…..
** Mengapa? Simak dengan sabar kisah pengalaman dan paparan menarik dari seorang Ibu yang dokter. **
Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku …tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.
“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”
Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”
Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.
“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”
Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”
Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.
“Just drink a lot,” katanya ringan.
Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.
“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.
Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat.
Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.
Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.
“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.
Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anak anakku sendiri.
Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak.
Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.
Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.
“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,
“Nothing to worry. Just a viral infection.”
Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagi lagi aku sebal.
“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum.
“Do you know how many times normally children get sick every year?”
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.
“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar.
“Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.
Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI.
Bunyinya begini: “Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar.
Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun.”
Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus.
Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”
Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku.
Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.
Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional.
Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anak anak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.
Jadi, bagaimana dengan para orang tua di Indonesia?
Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu.
Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat.
Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum